-->
Arus Daerah News

Berita Ter - Update dan Terpopuler

  • Jelajahi

    Copyright © Arus Daerah News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Idhul Adha DPRD Rohil, 2025

    Iklan Idhul Adha DPRD Rohil, 2025
    DPRD Rohil

    Iklan RAMADHAN BPKAD ROHIL 2024

    Iklan DPRD Rohil Ucapan Selamat Dan Sukses Atas Pelantikan Bustami Dan Jhony Charles Sebagai Bupat5

    Iklan DPRD Rohil Ucapan Selamat Dan Sukses Atas Pelantikan Bustami Dan Jhony  Charles Sebagai Bupat5
    Iklan DPRD Rohil Ucapan Selamat Dan Sukses Atas Pelantikan Bustami Dan Jhony Charles sebagai Bupati dan wakil Bupati Rohil 2025 - 2039

    Iklan DPRD Rohil HUT Rohil ke - 25

    div class="separator" style="clear: both;">

    Stop hoaks Rohil

    Stop hoaks Rohil
    Rohil

    Iklan Pemkab Rohil

    Iklan Pemkab Rohil
    Karhutla
    div class="separator" style="clear: both;">

    Halaman

    Komisi II DPRD Kampar Desak Pemda Segera Geser Anggaran , DPRD Kampar Soroti Ancaman Krisis Obat RSUD Bangkinang,

    Arus Daerah News
    Senin, 18 Mei 2026, Mei 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-27T02:42:45Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini




    Komisi II DPRD Kampar Desak Pemda Segera Geser Anggaran , DPRD Kampar Soroti Ancaman Krisis Obat RSUD Bangkinang,



    Arusdaerahnews.com - Kampar - Komisi II DPRD Kabupaten Kampar memberi perhatian serius terhadap potensi krisis ketersediaan obat di RSUD Bangkinang. Persoalan tersebut mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar di ruang rapat Komisi II DPRD Kampar, Senin (18/5/2026).

    Ketua Komisi II DPRD Kampar Tony Hidayat menegaskan, DPRD tidak ingin pelayanan kesehatan masyarakat terganggu akibat keterbatasan anggaran belanja obat yang diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Juli 2026.

    "Hal yang paling krusial adalah soal ketersediaan obat. Dari pagu belanja obat yang tersedia, sebagian besar sudah terpakai," tegas Tony usai memimpin pembahasan bersama pihak terkait.


    Dalam RDP tersebut terungkap, total pagu belanja obat RSUD Bangkinang saat ini sekitar Rp6,7 miliar. Namun, sekitar Rp4,7 miliar sudah terserap sehingga hanya tersisa sekitar Rp2 miliar.

    Sementara kebutuhan belanja obat rumah sakit diperkirakan mencapai Rp1 miliar setiap bulan. Dengan kondisi itu, Komisi II DPRD Kampar khawatir terjadi kekosongan obat mulai Agustus hingga APBD Perubahan disahkan.

    "Kalau melihat kebutuhan sekarang, kemungkinan obat hanya tersedia sampai Juli. Yang dikhawatirkan terjadi kekosongan obat pada Agustus hingga sebelum APBD Perubahan disahkan," ujarnya.

    Tony menilai persoalan tersebut harus segera mendapat solusi cepat agar pelayanan kesehatan masyarakat tetap berjalan optimal. Ia menegaskan, masalah utama bukan karena tidak adanya dana, melainkan keterbatasan pagu belanja yang diatur pemerintah.

    "Uangnya sebenarnya ada, termasuk dari piutang Jamkesda yang setiap bulan bisa ditagih. Tetapi batas maksimal belanja obat yang diperbolehkan pemerintah hanya segitu," jelasnya.

    Sebagai bentuk komitmen pengawasan dan keberpihakan terhadap pelayanan publik, Komisi II DPRD Kampar langsung menawarkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi krisis obat tersebut.

    Salah satu opsi yang dibahas yakni pemanfaatan Belanja Tidak Terduga (BTT). Selain itu, DPRD juga mendorong pemanfaatan ambang batas maksimal pagu BLUD apabila pendapatan rumah sakit nantinya melebihi target yang telah ditetapkan.

    Namun demikian, skema tersebut saat ini belum dapat diterapkan karena pendapatan BLUD RSUD Bangkinang belum melampaui target.

    Karena itu, Komisi II DPRD Kampar mendesak pemerintah daerah segera melakukan pergeseran anggaran sebelum APBD Perubahan disahkan.

    "Kami meminta pemerintah segera melakukan pergeseran anggaran, mungkin bisa dilakukan pada Juni nanti, khusus untuk menggeser pagu belanja obat rumah sakit. Ini mendesak," tegas Tony.

    DPRD Kampar menilai langkah cepat sangat penting demi menjaga stabilitas pelayanan kesehatan masyarakat di RSUD Bangkinang. Komisi II juga memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut agar kebutuhan obat tetap terpenuhi dan pelayanan rumah sakit tidak terganggu.

    "Kalau ini tidak segera dilakukan, rumah sakit bisa tidak berfungsi optimal karena tidak ada obat," pungkasnya.(Adv)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini